Kemarin, Sekarang & untuk Selamanya

Sampingan
Potensi Rumput Laut Sebagai Obat

Berdasarkan hasil studi pustaka tentang potensi rumput laut sebagai obat diketahui 23 jenis rumput laut berpotensi sebagai obat meliputi 2 jenis (9 %) dari divisi Chlorophyta, 8 jenis (35 %) dari divisi Rhodophyta dan 13 jenis (56 %) dari divisi Phaeophyta.

 

Rumput laut dari divisi Rhodophyta, marga Gracilaria diketahui kaya akan antilipemik yang digunakan sebagai obat penyakit gangguan dalam.  Laurenccia   dapat digunakan untuk antivirus, antibakteri dan antijamur.  Gelidella  dapat digunakan untuk penyakit gangguan dalam, antibakteri dan antijamur.  Di Jepang marga dari Gelidium digunakan sebagai pendingin dan scrofula (penyakit kelenjar pencernaan) adalah Gelidiella acerosa.

Acanthophora berkhasiat untuk antimikroba dan anti kesuburan. Menurut Atmadja W (1990) pada tahun 1986 Wahidul pernah melakukan penelitian mengekstrak Acanthophora spicifera, dari hasil ekstrak tersebut dapat diisolasi senyawa kimia yaitu sterol, kolesterol, asam lemak, stearik, palmitat, behamik (C22), asam arakhidik (C2O) dan methyl palmitat.  Rumput laut ini juga mempunyai daya aktivitas antimikroba terhadap Staphylococcus aureus dan Candida albicans dan memiliki aktivitas anti kesuburan terhadap binatang. 

Rhodymenia dapat digunakan sebagai antifermivuge (obat cacing).  Di kawasan Asia Timur spesies Rhodymenia pelmata digunakan sebagai obat cacing. Beberapa spesies dari marga Eucheuma di Filipina digunakan sebagai bahan obat batuk.

Rumput laut yang berpotensi sebagai obat dari divisi Chlorophyta yang diperoleh adalah dari marga Ulva, Enteromorpha, Cladophora dan Caulerpa .  Marga dari Ulva diketahui mempunyai aktivitas antibakteri dan dapat menurunkan tekanan darah tinggi. Ulva dapat digunakan untuk pengobatan cacingan misalnya Ulva lactuca digunakan untuk menyembuhkan penyakit kelenjar.  Di Cina digunakan untuk menyembuhkan penyakit panas (Hope et al.  1979).

Enteromorpha  diketahui mempunyai aktivitas antibakteri.   Caulerpa dapat digunakan sebagai antijamur. Caulerpa racemosa  diketahui bersifat racun terhadap beberapa organisme laut.  Hasil dari ekstrak Caulerpa dapat diisolasi senyawa kimia seperti caulerpicin, caulerpin dan sterol.  Caulerpicin menimbulkan rasa pedas dan memyebabkah efek anesthesia yang ringan bila ditempelkan pada mulut, sehingga aktivitas neurotropik ini mempunyai nilai klinis.  Caulerpicin juga dapat diisolasi dari Caulerpa racemosa.

Acanthophora berkhasiat untuk antimikroba dan anti kesuburan. Menurut Atmadja (1990) pada tahun 1986 Wahidul pernah melakukan penelitian mengekstrak Acanthophora spicifera, dari hasil ekstrak tersebut dapat diisolasi senyawa kimia yaitu sterol, kolesterol, asam lemak, stearik, palmitat, behamik (C22), asam arakhidik (C2O) [1]

dan methyl palmitat.  Rumput laut ini juga mempunyai daya aktivitas antimikroba terhadap Staphylococcus aureus dan Candida albicans dan memiliki aktivitas anti kesuburan terhadap binatang. 

Rhodymenia dapat digunakan sebagai antifermivuge (obat cacing).  Di kawasan Asia Timur spesies Rhodymenia indica digunakan sebagai obat cacing. Beberapa spesies dari marga Eucheuma di Filipina digunakan sebagai bahan obat batuk.

Rumput laut dari divisi Phaeophyta yang diperoleh dari ke dua pantai tersebut yang berpotensi sebagai obat diantaranya marga Padina, Dictyota  dan Sargassum.  Padina dan Dictyota diketahui mempunyai aktivitas antibakteri, sedangkan aktivitas antitumor dimiliki oleh Dictyopteris. Marga dari Sargassum diketahui mempunyai aktivitas antibakteri, antitumor, menurunkan tekanan darah tinggi dan gangguan kelenjar gondok (Atmadja et al. 1990).  Substansi dari S. duplicatum adalah efektif dalam meningkatkan efektivitas serum lipolitik.  Substansi hypoglyemic mampu menurunkan gula darah sebesar 17%, dan dalam jumlah prosentase tertentu menunjukkan aktivitas antilipemic (Hope et al.  1979).

Rumput laut berpotensi obat yang tumbuh pada substrat pasir diketahui sebanyak 18 jenis (30 %), 21 jenis (34 %) tumbuh pada substrat karang dan 22 jenis (36 %) tumbuh pada substrat campuran di Pantai Rancababakan, Cilacap. 

[2]

 Jenis-jenis rumput laut yang berpotensi sebagai obat di Pantai Rancababakan Cilacap (Lampiran 1) meliputi rumput laut jenis C. crassa,  U. rigida, Gelidium rigidum, G. foliiferae, G. lichenoides, G. eucheumoides, Acanthophora spicifera, A. muscoides, Eucheuma serra, R. palmata P. australis, T. conoides, T. murayan, S. crassifolium, S. duplicatum, S. vulgare, S. hystrix, S. polycystum, S. cinereum, S. plagyophyllum, S. polyceratium, S. fluitans dan Dictyopteris sp.  


 

 

Potensi Rumput Laut Sebagai Obat

Berdasarkan hasil studi pustaka tentang potensi rumput laut sebagai obat diketahui 23 jenis rumput laut berpotensi sebagai obat meliputi 2 jenis (9 %) dari divisi Chlorophyta, 8 jenis (35 %) dari divisi Rhodophyta dan 13 jenis (56 %) dari divisi Phaeophyta.

 

Rumput laut dari divisi Rhodophyta, marga Gracilaria diketahui kaya akan antilipemik yang digunakan sebagai obat penyakit gangguan dalam.  Laurenccia   dapat digunakan untuk antivirus, antibakteri dan antijamur.  Gelidella  dapat digunakan untuk penyakit gangguan dalam, antibakteri dan antijamur.  Di Jepang marga dari Gelidium digunakan sebagai pendingin dan scrofula (penyakit kelenjar pencernaan) adalah Gelidiella acerosa.

Acanthophora berkhasiat untuk antimikroba dan anti kesuburan. Menurut Atmadja W (1990) pada tahun 1986 Wahidul pernah melakukan penelitian mengekstrak Acanthophora spicifera, dari hasil ekstrak tersebut dapat diisolasi senyawa kimia yaitu sterol, kolesterol, asam lemak, stearik, palmitat, behamik (C22), asam arakhidik (C2O) dan methyl palmitat.  Rumput laut ini juga mempunyai daya aktivitas antimikroba terhadap Staphylococcus aureus dan Candida albicans dan memiliki aktivitas anti kesuburan terhadap binatang. 

Rhodymenia dapat digunakan sebagai antifermivuge (obat cacing).  Di kawasan Asia Timur spesies Rhodymenia pelmata digunakan sebagai obat cacing. Beberapa spesies dari marga Eucheuma di Filipina digunakan sebagai bahan obat batuk.

Rumput laut yang berpotensi sebagai obat dari divisi Chlorophyta yang diperoleh adalah dari marga Ulva, Enteromorpha, Cladophora dan Caulerpa .  Marga dari Ulva diketahui mempunyai aktivitas antibakteri dan dapat menurunkan tekanan darah tinggi. Ulva dapat digunakan untuk pengobatan cacingan misalnya Ulva lactuca digunakan untuk menyembuhkan penyakit kelenjar.  Di Cina digunakan untuk menyembuhkan penyakit panas (Hope et al.  1979).

Enteromorpha  diketahui mempunyai aktivitas antibakteri.   Caulerpa dapat digunakan sebagai antijamur. Caulerpa racemosa  diketahui bersifat racun terhadap beberapa organisme laut.  Hasil dari ekstrak Caulerpa dapat diisolasi senyawa kimia seperti caulerpicin, caulerpin dan sterol.  Caulerpicin menimbulkan rasa pedas dan memyebabkah efek anesthesia yang ringan bila ditempelkan pada mulut, sehingga aktivitas neurotropik ini mempunyai nilai klinis.  Caulerpicin juga dapat diisolasi dari Caulerpa racemosa.

Acanthophora berkhasiat untuk antimikroba dan anti kesuburan. Menurut Atmadja (1990) pada tahun 1986 Wahidul pernah melakukan penelitian mengekstrak Acanthophora spicifera, dari hasil ekstrak tersebut dapat diisolasi senyawa kimia yaitu sterol, kolesterol, asam lemak, stearik, palmitat, behamik (C22), asam arakhidik (C2O) [1]

dan methyl palmitat.  Rumput laut ini juga mempunyai daya aktivitas antimikroba terhadap Staphylococcus aureus dan Candida albicans dan memiliki aktivitas anti kesuburan terhadap binatang. 

Rhodymenia dapat digunakan sebagai antifermivuge (obat cacing).  Di kawasan Asia Timur spesies Rhodymenia indica digunakan sebagai obat cacing. Beberapa spesies dari marga Eucheuma di Filipina digunakan sebagai bahan obat batuk.

Rumput laut dari divisi Phaeophyta yang diperoleh dari ke dua pantai tersebut yang berpotensi sebagai obat diantaranya marga Padina, Dictyota  dan Sargassum.  Padina dan Dictyota diketahui mempunyai aktivitas antibakteri, sedangkan aktivitas antitumor dimiliki oleh Dictyopteris. Marga dari Sargassum diketahui mempunyai aktivitas antibakteri, antitumor, menurunkan tekanan darah tinggi dan gangguan kelenjar gondok (Atmadja et al. 1990).  Substansi dari S. duplicatum adalah efektif dalam meningkatkan efektivitas serum lipolitik.  Substansi hypoglyemic mampu menurunkan gula darah sebesar 17%, dan dalam jumlah prosentase tertentu menunjukkan aktivitas antilipemic (Hope et al.  1979).

Rumput laut berpotensi obat yang tumbuh pada substrat pasir diketahui sebanyak 18 jenis (30 %), 21 jenis (34 %) tumbuh pada substrat karang dan 22 jenis (36 %) tumbuh pada substrat campuran di Pantai Rancababakan, Cilacap. 

[2]

 Jenis-jenis rumput laut yang berpotensi sebagai obat di Pantai Rancababakan Cilacap (Lampiran 1) meliputi rumput laut jenis C. crassa,  U. rigida, Gelidium rigidum, G. foliiferae, G. lichenoides, G. eucheumoides, Acanthophora spicifera, A. muscoides, Eucheuma serra, R. palmata P. australis, T. conoides, T. murayan, S. crassifolium, S. duplicatum, S. vulgare, S. hystrix, S. polycystum, S. cinereum, S. plagyophyllum, S. polyceratium, S. fluitans dan Dictyopteris sp.  


 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s